MWC NU Gudo Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awwal 1447 H, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Gudo menggelar acara akbar di Balai Latihan Kerja (BLK) MWC NU Gudo. Kegiatan ini disambut antusias oleh jamaah yang hadir dari berbagai kalangan, baik pengurus, kader, tokoh agama, maupun masyarakat sekitar. Suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan menyelimuti jalannya acara dari awal hingga akhir.
Pembukaan dengan Lantunan Ayat Suci
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang qori muda dari PAC Fatayat NU Gudo yang mengalunkan bacaan penuh penghayatan. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu mengingatkan jamaah akan dasar iman yang menjadi pijakan utama setiap amal ibadah. Hadirin tampak larut dalam suasana, khusyuk mendengarkan setiap kalimat penuh makna yang dibacakan. Nuansa sakral ini menjadi pengantar yang tepat untuk acara Maulid Nabi, sebuah momentum memperingati kelahiran manusia agung pembawa risalah Islam.
Pembukaan acara tersebut tidak hanya formalitas, tetapi menjadi simbol pengingat bahwa setiap kegiatan keagamaan harus diawali dengan kalam Allah. Hal ini sejalan dengan tradisi pesantren dan organisasi keagamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama yang senantiasa menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat keberkahan.
Meriah dengan TIM Samroh Fatayat NU Gudo
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan penampilan samroh ibu-ibu Fatayat NU Gudo. Dengan suara merdu dan penuh penghayatan, mereka melantunkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut seolah menyatukan hati jamaah dalam cinta kepada Rasulullah. Bukan hanya sekadar hiburan, samroh ini adalah bagian dari tradisi keagamaan yang menumbuhkan rasa cinta sekaligus mengingatkan pentingnya dzikir dalam kehidupan sehari-hari.
Sambutan pertama disampaikan oleh Wakil Tanfidziyah MWC NU Gudo, KH. Suherlan. Beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini dan memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung. Di sela sambutannya, beliau menyampaikan pesan khusus agar jamaah bersama-sama mendoakan kesembuhan KH. Aripin, Sekretaris MWC NU Gudo, serta KH. Drs. Ahsan Sutari, M.Pd, Ketua Tanfidziyah, yang baru saja menjalani operasi pengambilan ginjal. Doa dipanjatkan dengan penuh harap agar para kiai tersebut diberi kesembuhan, kesehatan, dan kekuatan dalam melanjutkan pengabdian.
Pesan KH. Herlan ini menyentuh hati jamaah. Para hadirin tampak menundukkan kepala, membisikkan doa masing-masing, menandakan betapa besarnya rasa cinta dan hormat masyarakat Gudo kepada para kiai yang menjadi panutan spiritual.
Sambutan Ketua PAC Fatayat NU Gudo
Berikutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua PAC Fatayat NU Gudo, Ustadzah Mudayanah. Dalam amanatnya, beliau mengajak seluruh kader Fatayat untuk semakin solid dalam berkhidmat. Menurutnya, Maulid Nabi adalah momentum penting untuk memperkokoh semangat perjuangan, meneladani akhlak Nabi, dan meneguhkan komitmen organisasi. Ia menegaskan bahwa Fatayat NU bukan hanya organisasi perempuan biasa, melainkan wadah kaderisasi yang strategis dalam membentuk generasi muslimah yang cerdas, berdaya, dan berakhlak mulia.
Ustadzah Mudayanah juga mengingatkan bahwa keberadaan Fatayat NU adalah bagian penting dari rantai perjuangan NU secara keseluruhan. Dengan penuh semangat, beliau menekankan bahwa peran perempuan dalam dakwah, pendidikan, dan sosial tidak bisa dipandang sebelah mata.
KH. Hamdan juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan umat di tengah tantangan zaman. Menurut beliau, salah satu warisan Nabi yang paling relevan hingga kini adalah semangat kebersamaan dan gotong royong. Dengan cara itu, umat Islam dapat menghadapi berbagai tantangan sosial, budaya, dan ekonomi dengan lebih kuat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah hal baru bagi umat Islam di Indonesia. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keagamaan. Di berbagai daerah, perayaan Maulid diwarnai dengan beragam tradisi, mulai dari pembacaan barzanji, sholawatan, hingga sedekah bersama. Semua itu berakar pada rasa cinta umat kepada Rasulullah.
Bagi warga NU, Maulid Nabi adalah salah satu sarana menghidupkan syiar Islam dengan cara yang penuh makna. Kegiatan semacam ini tidak hanya memperkuat kecintaan kepada Nabi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial, semangat gotong royong, serta nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Fatayat NU sebagai organisasi perempuan muda NU memiliki posisi strategis dalam dakwah. Mereka tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga aktif dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga advokasi sosial. Dalam konteks peringatan Maulid Nabi ini, keterlibatan Fatayat NU menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran vital dalam menjaga tradisi Islam ahlussunnah wal jamaah di tengah masyarakat.
Ustadzah Mudayanah menegaskan bahwa kehadiran Fatayat adalah bukti nyata perempuan NU bisa menjadi motor perubahan. Dengan semangat kebersamaan, kader Fatayat terus berjuang menghidupkan nilai-nilai keislaman sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
Kegiatan Maulid ini juga menjadi refleksi sosial. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, perayaan Maulid mengingatkan jamaah akan pentingnya berkumpul, bersilaturahmi, dan saling menguatkan. Nilai kebersamaan yang tumbuh dari acara ini sangat berharga, mengingat masyarakat kerap dihadapkan pada individualisme yang tinggi.
Selain itu, doa bersama untuk kesembuhan para kiai menjadi bukti bahwa masyarakat NU masih sangat menjunjung tinggi nilai takzim kepada ulama. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa ulama tetap menjadi figur sentral dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Selama acara berlangsung, tim dokumentasi PAC Fatayat NU Gudo dan LTN MWC NU Gudo mencatat setiap momen penting. Mulai dari lantunan sholawat, sambutan para tokoh, hingga tausiyah yang penuh makna. Foto-foto kegiatan menjadi bukti nyata semangat jamaah dalam menghidupkan syiar Islam. Dokumentasi ini nantinya akan menjadi arsip berharga sekaligus sarana publikasi agar masyarakat lebih mengenal peran Fatayat NU.
Dengan terselenggaranya acara Maulid Nabi Muhammad SAW ini, PAC Fatayat NU Gudo berharap agar kegiatan serupa dapat terus digalakkan di masa mendatang. Tidak hanya di tingkat PAC, tetapi juga hingga ke ranting-ranting. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan tradisi dan memperkuat ukhuwah islamiyah di tingkat akar rumput.
Lebih dari itu, Fatayat NU Gudo juga bertekad memperkuat program-program sosial yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dengan begitu, kehadiran Fatayat bukan hanya dalam acara seremonial, tetapi juga dalam aksi nyata di bidang sosial, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar PAC Fatayat NU Gudo di BLK MWC NU Gudo adalah momentum penting untuk mempertegas komitmen umat Islam dalam meneladani akhlak Rasulullah. Melalui lantunan sholawat, doa bersama, tausiyah, serta refleksi sosial, kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya ikhlas, kebersamaan, dan pengabdian. Semoga dengan kegiatan ini, semangat umat untuk meneladani Nabi semakin kokoh, dan Fatayat NU terus berkembang sebagai motor penggerak dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Laporan LTN MWC NU Gudo




0Komentar